Sayangilah Orang Tuamu Selagi Kamu Masih Bisa Melihat Mereka
Sayangilah Orang Tuamu Selagi Kamu Masih Bisa Melihat Mereka

Sayangilah Orang Tuamu Sebelum Terlambat

Posted on

Orang tua adalah malaikat yang diberikan oleh Tuhan pada setiap anak yang lahir di dunia ini. Tuhan menanugrahkan orang tua pada setiap anak di dunia ini, untuk menjaga dan melindunginya. Orang tua adalah orang yang selalu bekerja keras untuk membahagiakan kita. Mereka bahkan rela bekerja seharian penuh untuk memenuhi kebutuhan kita, dan tidak jarang mereka memberikan jatah makan mereka pada kita saat tidak ada apapun untuk kita makan. Mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kita. Merekalah satu-satunya orang yang memuji kekurangan kita, dan mereka memberikan bahunya untuk tempat kita bersandar saat kita tidak punya siapapun. Dan saat kita tanpa sengaja telah menyakiti hati mereka, mereka sering memendam rasa kesal mereka pada kita, mungkin mereka hanya memberikan kita nasehat, dan memberikan sedikit hukuman pada kita. Tujuan mereka hanyalah agar kita menjadi anak yang baik dan sukses kelak. Dan meskipun kita sering menyakiti hati mereka, mereka tidak pernah mendo’akan jelek untuk kita, sebaliknya mereka malah berdo’a yang baik-baik untuk kita.

Sebagai seorang anak, harapan terbesar saya adalah menjadi anak yang baik dan bisa membahagiakan orang tua saya. Dan saya yakin bukan hanya saya saja yang mempunyai harapan seperti itu, semua anak di dunia ini pasti juga memiliki harapan yang sama dengan saya. Pesan saya di sini adalah jangan sampai kalian terlambat untuk bisa membahagiakan orang tua kalian. Meskipun sekarang kalian masih bisa melihat mereka setiap saat, namun kalian tidak pernah tahu sampai kapan kalian masih bisa melihat mereka. Jangan sampai hal yang saya rasakan juga akan kalian rasakan nantinya. Pada artikel saya kali ini, saya akan menceritakan sedikit tentang kisah hidup saya yang paling saya sesali, yakni kehilangan seorang ayah yang belum pernah bisa saya bahagiakan.

Pada saat itu saya berusia 12 tahun, tepatnya saat saya kelas 6 SD. Waktu itu di sekolah saya sedang ada acara lepas kenang, dan saya terpilih menjadi salah satu anggota grup paduan suara untuk mengisi salah satu jadwal acara tersebut. Setelah mengisi acara, saya langsung pulang ke rumah namun saya heran ternyata tidak ada satu orang pun di rumah. Lalu saya pergi ke rumah bibi yang ada sebelah rumah saya. Bibi saya mengatakan kalau bapak saya sedang dirawat di rumah sakit dan ibu saya juga ikut untuk menjaga bapak saya. Saya adalah anak tunggal, saya hanya tinggal bersama ibu dan bapak saya. Dari siang sampai sore saya bertempat di rumah bibi saya, dan pada saat itu saya hanya memikirkan tentang apa sebenarnya yang telah terjadi, kenapa ibu dan bapak saya tidak pulang-pulang, apa yang terjadi pada bapak saya sampai beliau dibawa ke rumah sakit. Karna memang sebelum kejadian itu, bapak saya tidak pernah mengeluhkan hal apapun tentang kesehatannya.

Hal-hal yang buruk terus mengiang di pikiran saya, dan akhirnya saya pun tertidur. Saat tidur, saya mendengar samar-samar suara orang menangis, ternyata itu adalah suara bibi dan bude saya yang sedang berbicara lewat telepon. Saya berusaha mendengarkan pembicaraan mereka, dan ternyata mereka membicarakan tentang bapak saya yang ternyata sudah meninggal. Seketika itu juga saya langsung menangis tanpa henti sampai pagi. Saat pagi harinya, jenazah bapak saya didatangkan di rumah saya. Rasanya saat itu saya sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi, semua pikiran dan angan-angan saya berhenti seketika itu juga, saya masih tidak percaya kalau jenazah yang dibawa ke rumah saya adalah jenazah bapak saya, karna dua hari yang lalu saya masih bercanda dengan bapak saya. Dan kenapa Tuhan sangat cepat mengambil bapak saya, kenapa Tuhan memberikan cobaan yang sangat berat ini pada saya dan ibu saya. Selama beberapa hari ke depan hanya itulah yang saya pikirkan. Dan yang paling menyiksa perasaan saya adalah kenapa pada saat hari terakhir saya melihat bapak, saya malah menyimpan rasa marah pada beliau karna saya tidak diantar pergi ke sekolah. Hal itulah yang paling saya sesali, kenapa pada saat itu saya tidak memeluk beliau dengan erat, dan malah menjauh saat beliau mengajak saya bicara. Seandainya saya tahu kalau hari itu adalah hari terakhir saya melihat bapak, pasti hari-hari sebelumnya saya akan melakukan hal yang membuat beliau merasa bangga dan bahagia.

Memang benar kata orang, kita akan merasa sangat merindukan seseorang saat dia telah pergi dari kita, dan hal itulah yang saya rasakan sampai sekarang. Dan juga seorang anak Perempuan memang membutuhkan ayahnya, sangat sulit bagi anak perempuan menjalani hidup tanpa ayahnya. Rindu, kecewa, dan menyesal adalah hal yang saya rasakan ketika saya melihat foto bapak saya. Namun yang paling besar adalah rasa penyesalan saya, kenapa saat bapak saya masih hidup, saya belum pernah bisa menjadi anak yang bisa membuat orang tua terutama bapak saya bahagia, saya sering mengeluh saat bapak saya menyuruh saya untuk mengerjakan sesuatu, padahal beliaulah yang menyetrikakan baju sekolah saya setiap hari, kenapa saya sering tidak mau untuk memijat punggung bapak saya padahal beliaulah yang menggendong saya saat saya ingin melihat karnaval, dan kenapa saya sangat mudah marah pada bapak saya ketika beliau berlaku jahil pada saya, padahal ketika saya sedang bandel, beliau dengan sabar menghadapi dan menasehati saya. Kenapa saya melakukan semua hal buruk tersebut pada bapak yang tidak pernah bisa saya lihat dan peluk lagi.

“Ya Tuhan, ampunilah semua dosa-dosa bapak saya selama beliau hidup, berikanlah beliau tempat yang baik di sana.” Itulah do’a saya setiap hari, karna sekarang yang bisa saya lakukan untuk menebus penyesalan saya adalah mendo’akan bapak saya agar beliau mendapatkan tempat yang baik di akhirat. Bapak, meskipun aku tidak pernah mengucapkan ini saat bapak masih hidup, “Terima kasih telah menjadi ayah yang baik untukku, dan maafkan kalau aku belum pernah bisa menjadi anak yang baik dan membuat bapak bangga, maafkanlah semua ucapan dan perlakuan saya ke bapak selama ini. Semoga bapak bisa bahagia di akhirot, dan semoga kita bisa berjumpa di surga nanti.”

Gravatar Image
Nama saya Fatka Safina Aulia Fanesta, biasa dipanggil Fatka. Saya lahir di tengah keluarga yang biasa-biasa saja, namun saya bercita-cita menjadi seorang filmmaker yang terkenal. Bekerja keras, terus mencari peluang, dan selalu berusaha mencintai pekerjaan adalah motto saya.

Leave a Reply