Yuk Sama-Sama Mengetahui Biografi Pangeran Diponegoro

Posted on

Biografi Singkat Pangeran Diponegoro – Salam sejahtera untuk anda semua para sahabat setia Gedubar.com, disini saya akan membagi ilmu kepada anda semua, khususnya yang ingin tahu dengan pahlawan-pahlawan yang telah berhasil menjadikan Negara Indonesia kini menjadi seperti saat ini. Kita sangat perlu mengenal nama-nama atau latar belakang dari pahlawan Negara Indonesia ini.

Kita semua juga perlu mengenalkan pahlawan kepada generasi kita yang baru, yang bahkan tidak pernah menjumpai langsung para pahlawan-pahlawan yang telah berhasil mengharumkan nama bangsa kita ini, dan walaupun mereka para generasi baru tidak bisa menjumpai para pahlawan secara langsung, tapi minimal mereka semua bisa mengenalnya melalui media social atau alat-alat canggih seperti yang saat ini sedang marak-maraknya, anak-anak biasa menyebutnya dengan gadged, dan berikut ini saya akan memperkenalkan salah satu dari nama pahlawan yang sudah berhasil mengharumkan nama bangsa kita ini.

Disini siapa yang tidak mengenal Pangeran Diponegoro, dan biasanya gambar Pangeran Diponegoro ini ada di salah satu mata uang yang ada di Negara Indonesia, ada yang tau gambar Pangeran Diponegoro ini terpampang di nominal uang berapa? Nilai 100 untuk anda semua yang menjawab nominal Rp,5000.

Pahlawan Negara Pangeran Diponegoro ini terlahir di kota Yogyakarta, pada saat itu tanggal 11 November 1785, dia meninggal dan diasingkan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada saat itu tanggal 8 Januari 1855 atau pada beliau berumur 69 Tahun da dia juga dimakamkan di Kota Makassar. Pangeran Diponegoro adalah salah satu dari pahlawan yang ada di Negara Indonesia. Adapun Pageran Diponegoro ialah putra sulung dari Hamengkubuwana III, yang mana Hamengkubuwana adalah seorang Raja Mataram yang ada di daerah Yogyakarta.

Dan dengan menyadari behwa kedudukannya sebagai putra dari seorang selir (garwa ampeyan) lalu Pangeran Diponegoro menolak keinginan dari ayahnya yaitu Sultan Hamengkubuwana III guna mengangkatnya sebagai raja, dia menolak karna dengan mengingat ibunya bukanlah seorang permaisuri, Pangeran Diponegoro mempunyai 3 orang istri yaitu bernama Raden Ayu Ratnaningsih, Bendara Raden Ayu Antawirya, dan juga Raden Ayu Ratnaningrum.

Adapun Pangeran Diponegoro dia lebih tertarik dengan kehidupan yang keagamaan dan juga merakyat, sehingga dia lebih menyukai tinggal di Tegalrejo yang mana tempat tinggal dari eyang buyut dari putrinya, lalu Permaisuri dari HB 1 yakni Ratu Ageng Tegalrejo yang ada di keraton.

Dan riwayat dari perjuangan Pangeran Diponegoro salah satunya ialah, perang Diponegoro bermula ketika Negara Belanda berhasil memasang patok di area tanah milik Pangeran Diponegoro yang ada di desa Tegalrejo, dan pada saat itu beliau memang sudah muak dengan kelakuan yang sudah dibuat dengan Belanda, dan pada saat itu Belanda sama sekali tidak menghargai adat istiadat dari wilayah setempat, dan belanda sangat mengeksploitasi rakyat-rakyat dengan adanya pembebanan pajak.

Dan sikap dari Pangeran Diponegoro saat itu menentang Belanda dengan cara terbuka, dan berhasil mendapat dukungan dan simpati dari rakyat-rakyat. Sebab atas saran dari Pangeran Mangkabumi atau selaku paman dari Pangran Diponegoro, kemudian Pangeran Diponegoro menyingkir dari daerah Tegalrejo dan membuat markas baru yang ada di sebuah Goa Selarong, dan pada saat itu juga Pangeran diponegoro menyatakan bahwasannya perlawanannya ialah disebut perang sabil, adanya perlawanan yang melawan kaum kafir, adanya semangat Perang Sabil yang berkobaran berkat Pangeran Diponegoro berhasil membawa pengaruh yang luas sehingga bisa ke Wilayah Pacitan Kedu, salah satu dari seorang tokoh agama yang ada di Surakarta, lalu Kyai Maja, juga ikut serta bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro yang ada di daerah Goa Selarong.

Lalu selama perang terjadi, ada kerugian dari pihak Belanda yaitu ada kurang lebih 15.000 dari tentara dan juga 20 gulden, sudah berbagai cara yang dilakukan oleh Belanda guna menangkap Pangeran Diponegoro, dan bahkan sampai diadakan sayembara pun guna menangkap Pangeran Diponegoro, dan bisa mendapatkan hadiah sebanyak 50.000 gulden jikalau ada orang yang berhasil menangkap Pangeran diponegoro. Dan pada akhirnya Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh mereka pada tahun 1830.

Lalu pada penangkapan yang ada di masa pengasingan, pada tanggal 16 Februari tahun 1830 Kolonel Cleerens dan Pangeran Diponegoro bertemu di daerah Remo Kamala tau wilayah Bagelen yang sekarang sudah masuk di wilayah Kota Purworejo. Cleerens telah mengusulkan supaya Kanjeng Pangeran Doponegoro dan juga para pengikutnya berdiam diri dulu di area Menoreh, sambil menunggu kedatagannya Letnan Gubernur Jendral Markus de Kock yang berasal dari Batavia.

Lalu pada tanggal 28 Maret tahun 1830 Pangeran Diponegoro menemui Jendral de Kock di Kota Magelang, Jendral de Kock memaksa tentang adannya mengadakan sebuah perundingan dan juga mendesak Pangeran Diponegoro supaya menghentikan Perang, tetapi permintaan itu di tolak oleh Pangeran Diponegoro, akan tetapi dari Belanda sudah menyiapkan persiapan perang yang bisa dibilang sangat teliti, dan pada hari itu juga Pangeran Diponegoro di tangkap lagi dan diasingkan di daerah Ungaran, lalu kemudian dibawa lagi ke Gedung Karesidenan Semarang, dan juga langsung dibawa ke Batavia menggunakan transportasi kapal pollux pada tanggal 5 April.

Dan pada tanggal 11 April tahun 1830 sesampainya di Batavia lalu kemudian ditawan di daerah Stadhuis yang sekarang menjadi sebuah Museum Fatahillah, adanya sambil menunggu sebuah keputusan tentang penyelesaian dari Gubernur Jendral Van den Bosch, pada tanggal 30 April tahun 1830 akhirnya keputusan pun berhasil keluar. Dan saat itu juga Pangeran Diponegoro, tumenggung Diposono berserta istri, Raden Ayu Ratnaningsih, serta semua para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Nyai sotaruno dan juga Banteng Wereng segera akan dibuang ke Manado. Pada tanggal 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dan juga berserta rombongan saat itu juga diberangkatkan dengan menaiki kapal Pollux menuju Manado dan juga di tawan di benteng yang ada di daerah Amsterdam.

Lalu pada tahun 1834 Pangeran Diponegoro berserta rombongan dipindahkan ke benteng Rotterdam yang terletak di Kota Makassar, Sulawesi selatan, pada saat itu tanggal 8 Januari tahun 1855 Pangeran Diponegoro wafat dan juga di makamkannya di Kampung Jawa Makassar, didalam perjuangannya, pangeran Diponegoro juga dibantu oleh putranya yang bernama Bagus Singlon atau juga dengan Ki Sodewo, dan juga Ki Sodewo berhasil melakukan peperangan yang ada di wilayah kulon Progo dan Bagelan.

Dan sekiranya cukup segitu dulu ya Biografi Singkat Pangeran Diponegoro, semoga bermanfaat, dan juga mohon maaf jikalau ada salah kata atau salah penulisan pada artikel ini, cukup sekian dan terimakasih.

Incoming search terms:

  • pangeran diponegoro

Leave a Reply