Sejarah Asal Mula Kesenian Wayang Kulit
Sejarah Asal Mula Kesenian Wayang Kulit

Asal Usul Wayang dan Sejarah Perkembangannya

Posted on

Wayang merupakan salah satu pertunjukan Indonesia yang berkembang pesat dan telah diakui karena keunikannya, seni pertunjukan wayang sendiri disukai oleh banyak orang. Bukan hanya di jawa saja yang suka dengan melihat wayang, sekarang wayang juga akrab dan sering dipertunjukan di acara-acara sakral di seluruh dunia. Kalau kalian ingin tahu seperti apa sejarah dan asal usul wayang dan juga perkembangannya hingga saat ini, simak artikel berikut ini.

Asal Usul Wayang
Asal Usul Wayang

Asal Usul Wayang

Asal usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Tetapi orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam masyarakat. Wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional dan merupakan puncak budaya daerah.

Menurut kitab centini, asl usul wayang purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, awal-awal sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri. Wayang yang dalam bentuknya sederhana yaitu asli Indonesia, wayang memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanya memiliki sifat Hamot (keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar), Hamong (Kemampuan untuk menyaring unsure-unsur baru itu sesuai nilai-nilai warna yang ada), Hamemangkat.

Pada saat zaman kono ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animism dan dinamisme, paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka tetap dipuja dan dimintai pertolongan, roh nenek moyang yang dipuja disebut dengan “Hyang atau dyang”. Orang bisa berhubungan dengan “Hyang atau dyang” ini melalui seorang medium yang disebut “syaman”. Ritual pemujaan nenek moyang “Hyang” dan “syaman” inilah yang akhirnya menjadi asal mula pertunjukan wayang. “Hyang” menjadi wayang dan “syaman” menjadi dalang. Sedangkan ceritanya merupakan petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa jawa asli yang masih dipakai hingga sampai saat ini. Jadi, wayang berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia disekitar tahun 1500 SM.

Wayang golek
Wayang golek

Sebelum kebudayaan Hindu memasuki wilayah nusantara, khususnya pulau jawa, kesenian wayang yang sudah ada di nusantara. Berjalan dengan seiringnya waktu, wayang terus berkembang sampai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Pada saat abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha  menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan diatas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa wisnu.

Pada masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahab dipegang oleh putranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar dengan sebutan Sri Suryawisesa. Sesama berkuasa Sri Suryawisase giat menyempurnakan bentuk wayang purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dsan disimpan ddidalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pakem cerita wayang purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggrakan pegelaran wayang purwa dan sri suryawisesa dendiri bertindak sebagai dalangnya.

Pada saat jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang diatas kertas disempurnakan dengan ditambahi bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut dengan sebutan wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang beber tersebut terlihat bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian keratin, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Semenjak itulah masyarakat diluar lingkungan kraton sempat ikut menikmati keindahannya. Saat pagelaran dilakukan didalam istana diiringi dengam gamelan laras slendro, tetapi pada saat itu pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnyapun terbatas pada lakon murwakala, yaitu laokn khusus untuk upacara ruwatan. Kisah-kisah yang dipagelarkan umumnya merupakan lakon dalam Mahabarata dan Ramayana atau kisah seputar kerajaan Jenggala.

Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala: Geni murub siniram jalma (1433/1511 M), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah AlM Akbar sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-15, dengan membawa perubahan yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan-perubahan besar tersebut tidak terjadi dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Bentuk wayang yang semula realistik proposional seperti tertera dalam relief candi-candi, banyak sekali tambahan dan pembaruan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu sebagai alat penerangan pada saat pertunjukan wayang kulit dimulai dan juga mempunyai makna simbolik, yaitu memanfaatkan masukan serta pengaruh buday lain baik dari dalam maupun dari luar Indonesia, gedebog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang dan masih banyak lagi.

Lukisan Wayang
Lukisan Wayang

Pada masa itu sementara pengikut agama islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu, timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbullah gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia.

Asal usul wayang Indonesia menjadi jelas dan mudah dibedakan dengan seni budaya sejenis yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara dikawasan Asia Tenggara. Tidak berbeda bentuk cara pementasaannya, cerita Mahabarata dan Ramayana yang digunakan juga berbeda. Cerita ini sudah terkenal sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan berkembang di Indonesia. Keaslian wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti Wayang, Blencong, Kepyak, Dalang, Kotak dan lain-lain. Kesemuanya itu menggunakan bahasa Jawa asli, berbeda dengan cempala yaitu alat pengetuk kotak yang menggunakan bahasa sansekerta. Biasanya wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa disebut dengan “ bahasa rinengga”. Kekuatan utama budaya wayang yaitu kandungan nilai falsafahnya, wayang yang tumbuh dan berkembang sejak lama itu ternyata berhasil menyerap berbagai nilai-nilai keutamaan hidup dan dapat dilestarikan dalam pertunjukan wayang. Wayang juga dapat nyata menggambarkan konsepsi hidup “sangkan paraning damadi”, manusia berasal dari tuhan dan akan kembali kepadanya.

Berikut ini beberapa jenis wayang yaitu sebagai berikut:

Wayang Purwa

Wayang Purwa
Wayang Purwa

Wayang purwa ini disebut juga wayang kulit karena terbuat dari kulit lembu, penyaduran sumber cerita dari Ramayana dan Mahabarata kedalam bahasa jawa kuno dilakukan pada masa pemerintahan raja Jayabaya , pujangga yang terkenal pada masa itu yaitu Empusedah, empu panuluh empu kanwa. Sunan kalijaga merupakan salah satu seorang walisanga (demak pada abad XV) yaitu orang yang pertama kali menciptakan wayang yang terbuat dari kulit lembu. Selain kulit lembu ada juga yang menggunakan kulit kerbau bahkan disuatu daerah ada yang menggunakan dengan kulit manusia. Dalang yang terkenal yakni Ki Narto Sabdo, Ki Haji Anom Suroto, Kitimbul Hadi Prayitno, Mas Bayu Aji dll.

Wayang Golek

Wayang Golek Bandung
Wayang Golek Bandung

Banyak orang yang menyebut dengan wayang tengul, wayang ini terbuat dari kayu dan diberi baju seperti layaknya manusia, sumbernya diambil dari sejarah misalnya cerita untung surapati, Batavia Sultan Agung, Trunajaya dll. Wayang golek tidak menggunakan kelir/layar seperti wayang kulit.

Wayang Krucil

Wayang Krucil
Wayang Krucil

Wayang ini terbuat dari kayu, bentuknya mirip wayang kulit. Biasanya menceritakan Darma Wulan dan Majapahit. Untuk menancapkan wayang klithik tidak perlu ditancapkan di pelepah pisang seperti wayang kulit tetapi menggunakan kayu yang telah diberi lubang-lubang.

Wayang Beber

Wayang Beber
Wayang Beber

Wayang beber ini terbuat dari kain atau kulit lembu yang berupa beberan atau lembaran, setiap beberan ini merupakan satu adegan cerita. Tetapi kalau sudah tidak dimainkan maka bisa digulung, wayang ini dibuat pada jaman Kerajaan Majapahit.

Wayang Gedog

wayang-gedog
wayang-gedog

Bentuk wayang ini hampir mirip wayang kulit, sumber ceritanya berasal dari Jawa seperti: Banten, Singasari, Mataram, Kediri dll. Wayang gedog hampir punah kita hanya dapat menjumpainya pada tahun 1400

Wayang Saluh

wayang-saluh
wayang-saluh

Pementasan wayang saluh ini biasanya untuk penerangan masyarakat, wayang ini tergolong wayang modern yang terbuat dari kulit yang diberi pakaian lengkap lazimnya manusia gambarnyapun juga mirip manusia, ceritanya diambil dari kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Wayang Titi

Wayang Titi
Wayang Titi

Wayang titi yaitu wayang china, sumbernya berasal dari cerita china, wayang ini bisa kalian jumpai diperkampungan china atau klentang.

Wayang Madya

Wayang Madya
Wayang Madya

Waayang yang diciptakan oleh K.G Mangkungara IV pada awal abad XVIII. Sumber ceritanya diambil dari cerita Pandawa setelah perang Baratayuda.

Wayang Wahyu

Wayang Kulit Wahyu
Wayang Kulit Wahyu

Wayang yang satu ini juga sering disebut wayang Bibel, cerita wayang ini berasal dari kitab injil. Dan diciptakan oleh Bruder Themethos untuk menyiarkan agama Kristen

Wayang Orang

Wayang Orang Surakarta
Wayang Orang Surakarta

Cerita wayang wahyu ini dipentaskan oleh orang dengan mengenakan busana, sumbernyapun sama dengan wayang purwa.

Wayang Pancasila

wayang-pancasila
wayang-pancasila

Cerita wayang ini mirip dengan wayang purwa Cuma bedanya tokoh-tokohnya yaitu para pejuang-pejuang bangsa Indonesia ceritanya tentang perjuangan bangsa Indonesia.

Kesenian wayang banyak sekali ragamnya, hingga sekaramng pun kesenian wayang ini masih terus digelar dalam peringatan-perinagatan hari besar. Untuk menggelar pertunjukan yang lebih menarik, pertunjukan ini sering juga mempertunjukkan Geguritan bahasa Jawa.

Demikian beberapa ulasan mengenai wayang dan asal usulnya, semoga kesenian wayang ini semakin berkembang dan lebih banyak lagi dipertunjukan demi kelestarian budaya Indonesia.

Incoming search terms:

  • artikel asal mula wayang madya
Gravatar Image
Saya adalah gadis desa yang berkaca mata yang sedang mencari ilmu untuk menjadi pengusaha sukses dan ingin bisa menjadi kebanggaan orang tua.

Leave a Reply