Bermain Dapat Membentuk Psikososial Anak

Bermain Dapat Membentuk Psikososial Anak

Posted on
Bermain Dapat Membentuk Psikososial Anak

Bermain dapat membentuk psikososial anak? Apa bisa?

Pada masa anak-anak individu memasuki tahap game stage yang mana seorang anak akan mencoba memainkan peranannya di dalam kehidupan. Sebagai orang tua atau guru tidak di perbolehkan untuk melarang anak melakukan suatu hal yang di lakukan anak, tetapi orang tua dan guru supaya tetap mengawasi dan mengarahkan anak agar tidak melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.

Dalam tahap bermain ini sang anak akan membentuk psikologis dari cara orang tua mengarahkan dia pada saat bermain, seperti halnya saat anak sedang mewarnai lalu orang tua membantu memberi tahu warna dari setiap objek dan ada juga yang membiarkan anaknya untuk mengkreasikan warna sesuka sang anak.

Ternyata apabila membiarkan anak mewarnai dengan tidak di arahkan itu dapat membentuk kreativitas yang lebih dalam psikososialnya, tapi ya tetap harus selalu di awasi.

Selain itu jika sang anak bermain dengan anak sebayanya maka akan terdapat kontak sosial dengan sedikit demi sedikit membentuk karakter pada anak yang di sediakan dalam masyarakat, sebagai orang tua juga harus mengajarkan nilai dan norma pada anak agar mereka tetap selalu berkelakuan baik sewajarnya.

Adakah gunanya alat-alat bermain?

Bermain Dapat Membentuk Psikososial Anak

Ternyata bermain bisa membentuk psikososial anak, tapi tidak kita sadari itu. Alat- alat bermain anak itu sangat banyak gunanya seperti untuk :

  • Menyenangkan hati sang anak.
  • Melatih ketrampilan pada anak dengan bermain permainan itu seperti menghitung, menendang, menyusun, melempar, dan lain sebagainya.
  • Mengembangkan Imajinasi dan kreativitas anak mengenai bagaimana caranya untuk menggunakan mainan tersebut.
  • Menanamkan nilai dan norma yang mengandung unsur edukasi pada anak.
  • Melatih kecerdasan intelektual pada anak karena pengertiannya langsung di praktekan dalam alat tersebut.

Jika anak diam saja di rumah tidak mau bermain itu akan menghambat proses psikososial pada anak, karena dalam hakikatnya anak bermain itu berdampak positif pada perkembangan psikososial anak.

Bermain mampu melatih cara berfikir, melatih emosi anak, dan melatih ketangkasan anak.

Sebagai contoh pada saat anak bermain permainan puzzle anak di tuntut bersabar untuk mengendalikan emosinya, dan harus teliti untuk menata puzzle menjadi ke bentuk yang sempurna, kalau dia tidak sabar, tidak teliti, tidak bisa mengontrol emosinya dia akan susah untuk menyusun puzzle menjadi bentuk yang sempurna.

Contoh juga pada saat anak bermain dengan barbienya secara bersama-sama mereka akan berinteraksi sosial dengan boneka barbienya yaitu anak yang satu dengan yang lainnya akan saling menanyakan dimana boneka barbie itu di beli atau menanyakan siapa nama barbie tersebut, karena anak-anak biasanya menamakan boneka barbienya dengan nama-nama yang beraneka ragam dan lucu. Dengan demikian telah terjadi kontak sosial pada anak.

Dengan bermain juga bisa memunculkan rasa kerja sama anak, ketika anak bermain menyusun puzzle mereka akan bekerja sama agar puzzle tersebut bisa menjadi seperti bentuk sempurna.

Anak yang tidak mendapatkan stimulasi psikososial seperti halnya jarang di ajak bermain atau tidak mendapatkan lingkungan yang dapat merangsang pada otak, perkembangannya akan berbeda dengan anak sebayanya yang mendapatkan cukup stimulasi.

Bermain dapat membantu anak menjadi pribadi yang aktif dan kreatif, begitu banyaknya manfaat anak bermain tidak sewajarnya orang tua melarang anak untuk bermain. Jangan sampai membiarkan anak bermain dengan tidak di awasi, orang tua harus tetap mengawasi dan mengarahkan.

Ajak anak kalian bermain, karena bermain dapat membentuk psikososial pada anak.

Gravatar Image
Seseorang yang bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses dunia akhirat dan ingin membanggakan orang tua. Ingat! Bermimpilah setinggi langit dan jangan lupa pijakkan kakimu di bumi.

Leave a Reply